This site uses cookies from Google to deliver its services, to personalize ads and to analyze traffic. Information about your use of this site is shared with Google. By using this site, you agree to its use of cookies. Learn More

Cerita Mesum, Cerita Pemerkosaan, Cerita Selingkuh, Cerita Sex, Cerita Skandal

Cerita Mesum, Cerita Pemerkosaan, Cerita Selingkuh, Cerita Sex, Cerita Skandaltermotok.blogspot.com - Cerpensex | I. Les Yang Menyenangkan
Jam 15:15. Aku berpikir sejenak, berarti tadi itu aku dibantai sampai hampir 2 jam di gubuk tukang tambal ban itu. Aku sudah berada di depan pintu rumahku sekarang. Setelah memasukkan mobil ke dlm garasi rumah, aku mengambil nafas panjang untk mengumpulkan kekuatan. Kemudian aku turun dari mobilku, dan aku sudah membayangkan akan segera tidur pulas karena capai yg amat sangat ini.Masih terasa sekali, sisa rasa sakit bercampur ngilu pd selangkanganku ketika aku melangkahkan kakiku. Kedua kakiku ni jg masih lemas dan sedikit gemetar. Tapi aku harus segera mandi, membersihkan badanku sebersih bersihnya, lalu tidur mengistirahatkan tubuhku yg sudah hancur hancuran diperkosa oleh 7 orang tadi.Suasana rumah sepi sekali, dan ketika aku terus melangkah sampai ke depan pintu kamarku, aku tertegun melihat sepasang sepatu, sepatunya Cie Stefanny.Aduh, aku baru ingat kalau harusnya aku les sejak jam satu siang tadi. Aku segera masuk ke dlm kamarku. Tak ada siapa siapa di dlm sini, tapi pintu kamar mandiku yg tertutup dgn suara gemericik air dari dlm sana melenyapkan kebingunganku. Aku menaruh tas sekolahku di atas meja, dan duduk di kursi menunggu Cie Stefanny keluar dari kamar mandi.Aku memandangi ranjangku agak lama, dan aku mulai menyadari keadaan sprei ranjangku sepintas memang rapi, tapi kalau diperhatikan permukaannya terlalu banyak lipatan tak beraturan seperti sprei yg belum disetrika saja.Apakah karena Cie Stefanny tadi sempat tiduran di ranjangku? Mungkin saja, karena gorden kamarku sekarang ni tertutup. Tapi kalaupun iya, seharusnya sprei itu tak sampai lecek di sana sini seperti ini.‘Klik’, pintu kamar mandiku terbuka, dan Cie Stefanny yg keluar dari sana sedikit terkejut melihatku.Hai... sudah pulang ya Eliza, Cie Stefanny menyapaku.Iya, aduh sori ya Cie, tadi..., kata kataku terhenti ketika aku terlalu tertarik untk memperhatikan keadaan Cie Stefanny.Wajahnya merah segar walaupun ada kesan sedikit capek ditambah nafasnya yg ngos ngosan. Bajunya agak kusut, semua kancing baju itu jg tak terpasang, memperlihatkan kaus merah muda di dalamnya yg membalut ketat tubuh Cie Stefanny. Rambutnya yg panjang dan biasanya selalu indah tersisir rapi itu kini terlihat sedikit awut awutan. Sungguhpun begitu, Cie Stefanny masih tetap terlihat begitu cantik.Eliza?, tanya Cie Stefanny sambil memandangiku, membuatku tersadar kalau aku sudah terlalu lama memperhatikannya.Oh... itu Cie, anu... Cie Cie cantik sekali, aku tergagap panik dan berusaha menjawab apa saja.Sadar dgn apa yg baru saja kuucapkan, aku jadi malu sekali. Tapi belum sempat aku bereaksi lebih lanjut, tiba tiba aku sudah berada dlm pelukan Cie Stefanny yg melingkarkan tangannya di belakang bahuku.Eliza... thanks ya udah bilang Cie Cie cantik..., kata Cie Stefanny perlahan.Hangat dan nyaman sekali pelukan ini, membuatku memejamkan mata dan balas memeluk Cie Stefanny begitu saja. Kulingkarkan tanganku pd pinggang guru lesku yg hanya sedikit lebih tinggi dariku ini, dan kusandarkan kepalaku pd pundaknya.Tiba tiba aku menggigit bibirku sendiri ketika kurasakan rangsangan pd kedua puting payudaraku.Oh, aku baru sadar, sekarang ni aku tak mengenakan bra. Berpelukan seperti ini, kurasakan kedua payudara kami saling menekan. Akibatnya, tekanan ni langsung mengenai kedua putingku yg tak terlindung bra ini, dan hal ni langsung menyengat perasaanku.Mmmh... Cie..., tanpa sadar aku merintih ketika pelukan Cie Stefanny itu makin erat.Kenapa Eliza..., tanya Cie Stefanny pelan sambil melonggarkan pelukannya, dan sekarang kami berdua saling beradu pandang.Aku tak mengerti apa yg terjadi dgn diriku. Bertatapan seperti ni dgn Cie Stefanny, mendadak gairahku kembali meninggi. Sesaat kemudian aku sudah menerkam Cie Stefanny yg menjerit kecil karena terkejut. Berikutnya aku menjatuhkan dan menidih tubuh mungil guru lesku ni di atas ranjangku.Entah dpt kekuatan dari mana, kini aku sudah berhasil mencengkram kedua pergelangan tangan Cie Stefanny dan menekankan keduanya di atas ranjangku.Aduh... Eliza... kamu kenapa mmphhh..., kata kata Cie Stefanny terputus saat aku memagut bibirnya yg memakai lipgloss itu dgn sepenuh hatiku.Aku merasakan Cie Stefanny mencoba meronta, tapi aku bertekad tak akan melepaskannya. Kedua telapak kakiku kukaitkan pd kedua pergelangan kaki Cie Stefanny, dan aku melepaskan pagutanku dari bibirnya sesaat untk kemudian mencumbui wajah guru lesku yg cantik ini.Baca JUga Cerita Sex Lain nya di CeritasexTerbaru.NetOhh... Eliza..., Cie Stefanny merintih.Akhirnya tak ada lagi perlawanan yg dilakukan oleh Cie Stefanny. Ia menatapku dgn sayu, membuat jantungku semakin berdegup kencang. Aku kembali memagut bibir Cie Sefanny, dan sekali ni ia sudah mau membalas ciumanku ini.Maka kulepaskan cengkraman tanganku dan kaitan kakiku dari Cie Stefanny. Setelah beberapa saat aku mencumbui wajah guru lesku ni dgn penuh gairah, kini kami sudah bergumul dgn panas di atas ranjangku. Beberapa lamanya kami saling pagut dan berpelukan dgn mesra. Desahan dan rintihan kami berdua memenuhi kamarku, dan kami baru saling melepaskan ketika sama sama kehabisan nafas.Eliza... kamu nakal ya..., kata Cie Stefanny sambil menatapku dgn muka cemberut, tapi jelas sekali ia sedang menahan senyumnya.Aku menjawab dgn menyusupkan wajahku di antara belahan dada Cie Stefanny. Senang rasanya ketika Cie Stefanny memeluk kepalaku dan mengusap rambutku. Rasanya nyaman sekali, seperti mengobati kelelahanku setelah tadi siang aku harus pasrah melayani tujuh orang yg ramai ramai memperkosaku di tempat tukang tambal ban itu.Cie..., aku mengguman pelan.Ada apa Eliza?, tanya Cie Stefanny lembut.Hari ini, Cie Cie mau ya, menginap di sini?, tanyaku sambil mendongak dan menatap wajah guru lesku ni dgn penuh harap.Kenapa? Kok tumben sih kamu jadi aneh gini, Eliza?, sekali ni Cie Stefanny menatapku heran.Mmm... besok aku ada ulangan bahasa Inggris, dan ada bahan yg aku belum bisa Cie, kataku mencoba memberi alasan.Sesungguhnya aku hanya ingin Cie Stefanny menemaniku hari ini. Aku ingin terus memeluknya, mencumbuinya, dan bahkan kalau mungkin bercinta dengannya. Entah mengapa Cie Stefanny hari ni terlihat amat menggairahkan bagiku. Dan aku sudah membayangkan malam ni aku akan bercinta dgn Cie Stefanny, walaupun mungkin sebaiknya nanti itu aku dan Cie Stefanny sama sama menahan lenguhan saat menikmati percintaan kami, supaya tak ketahuan oleh keluargaku.Iya Cie Cie ajarin, tapi nanti malam Cie Cie pulang ya... Cie Cie kan nggak bawa baju..., Cie Stefanny menawar permintaanku dgn ragu.Nggak usah Cie, please... Temani aku ya Cie, kan Cie Cie bisa pakai bajuku..., aku mulai merengek.Duh... Kamu aneh deh hari ini, Eliza... Biasanya kan kamu nggak pakai minta ditemanin segala seperti ini... Ya udah, terserah kamu, kate Cie Stefanny sambil tersenyum, manis sekali.Thanks ya Ciee..., aku langsung meluapkan kesenanganku dgn kembali memagut bibir Cie Stefanny sejadi jadinya.Mmmhh..., Cie Stefanny mendesah, tubuhnya menegang sesaat, tapi kemudian mengendur dan pagutanku kembali berbalas.Kini ciuman kami semakin panas, apalagi Cie Stefanny sudah pasrah dgn kenakalanku. Ia membiarkan lidahku menjelajahi mulutnya, dan sekarang ni kurasakan lidahku saling mengait dgn lidah Cie Stefanny.Setelah beberapa saat kami saling mencumbu, tiba tiba Cie Stefanny membalik posisi kami hingga sekarang ia yg menindihku. Aku hanya menurut dan memejamkan mata, pasrah menunggu apa yg akan dilakukan guru lesku ni padaku.Eliza..., desah Cie Stefanny di antara nafasnya yg memburu.Iya Cie..., aku membuka mataku dan menatapnya.Kalau kita seperti ni terus, kapan kamu mau belajar? Katanya besok kamu ada ulangan..., bisik Cie Stefanny.Mmm... bentar Cie..., kataku sambil memeluk dan balik menindih tubuh Cie Stefanny.Iklan Sponsor :
Kini aku menyusupkan wajahku di pundak kiri Cie Stefanny. Bau harum dari rambut Cie Stefanny yg tergerai di depanku ni membuatku tak ingin segera melepaskan guru lesku ini. Aku terus bermanja manja di pelukan Cie Stefanny sambil mencium rambutnya.Ih... kamu kenapa sih..., Cie Stefanny menggodaku.Mmm... aku suka wangi rambutnya Cie Cie..., aku asal menjawab sambil memeluk Cie Stefanny.Kalau saja aku tak ingat liang vaginaku sekarang ni penuh dgn sisa sperma para pemerkosaku tadi, jg pahaku yg berlumuran sperma itu, aku pasti sudah melucuti pakaianku sendiri dan jg pakaian Cie Stefanny, lalu bercinta dengannya. Tapi kini aku lebih baik mandi keramas membersihkan tubuhku.Cie... Eliza mandi dulu ya..., aku berbisik di telinga Cie Stefanny.Mmm..., Cie Stefanny hanya mengguman, mirip sekali sepertiku ketika sedang dlm keadaan terangsang dan malas diajak bicara.Aku mati matian menahan gairahku yg menggelegak ni dan aku beranjak dari tubuh Cie Stefanny. Kubiarkan guru lesku ni terbaring di atas ranjangku, dgn dadanya yg naik turun sesekali. Mungkin Cie Stefanny sendiri jg sedang berusaha menahan gairahnya, membuatku sedikit malu jg setelah berbuat ‘nakal’ pd guru lesku ini.Sambil menggigit bibir menahan senyum, aku segera mengambil pakaian dalamku dari lemari, lalu aku segera ke kamar mandi. Setelah selesai keramas, aku menyiram dan membilas seluruh tubuhku dgn sabun cair plus air hangat. Semua debu dan keringat yg menempel di tubuh ni hanyut terbawa air shower, dan rasanya nyaman sekali.Tapi yg pasti aku tak mungkin lupa untk mencuci sperma para lelaki yg beruntung menikmati tubuhku siang hari tadi, baik yg kini sudah mengering di kedua pahaku, dan jg yg masih tersisa di dlm liang vaginaku yg amat becek ini.Perlahan kumasukkan satu jariku yg sudah kulumuri sabun pencuci vagina untk mengorek semua sisa campuran sperma dan cairan cintaku di dlm sana, lalu kusemprotkan air hangat sampai liang vaginaku jadi terasa bersih dan kesat. Setelah memberi cairan pengharum vagina yg jg berfungsi sebagai antiseptik, aku menghanduki rambutku dan tubuhku.Lalu aku memakai bra dan celana dalamku. Dan tanpa memakai baju, aku segera keluar dari kamar mandi, mengunci pintu kamarku untk memastikan tak ada gangguan dari luar. Lalu setelah mengambil buku pelajaran bahasa Inggrisku dari lemari buku pelajaranku, sekarang aku sudah duduk di sebelah Cie Stefanny yg masih tiduran di ranjangku.Eliza? Kamu..., Cie Stefanny memandangku sejenak, lalu ia tersenyum malu dan memalingkan mukanya.Cie, ayo... katanya Eliza disuruh belajar..., kataku dgn manja sambil memeluk Cie Stefanny.Eliza... kamu nakal ya..., kata Cie Stefanny dan mencubit kedua pipiku dgn gemas.Auww... sakit Ciee... ampun..., aku mengeluh manja.Kami berdua sama sama tertawa geli. Berikutnya aku duduk di sebelah Cie Stefanny, sambil mulai membuka buku pelajaran bahasa Inggrisku.Setelah menunjukkan beberapa halaman yg menjadi bahan ulangan besok, terutama bagian yg aku merasa cukup sulit, Cie Stefanny mengambil buku itu dan memperhatikan halaman demi halaman.Kini aku malah memperhatikan Cie Stefanny, dan melihat Cie Stefanny masih memakai pakaian lengkap, aku jadi usil.Cie, aku lepas bajunya ya..., kataku sambil mencoba melucuti baju Cie Stefanny.E... Eliza... ini..., Cie Stefanny mengeluh sambil memandangiku, tapi tak sedikitpun kurasakan ada perlawanan ataupun penolakan dari guru lesku yg cantik ini.Aku terus melepas baju Cie Stefany, dan memang Cie Stefanny sudah pasrah. Ia menurut saja dan mengangkat tangannya ketika aku menarik lepas baju itu dari tubuhnya. Lalu kulempar baju itu hingga terhampar di kursi meja belajarku, yg biasanya kupakai duduk selama les dgn Cie Stefanny.Kaus merah muda ketat yg masih melapisi tubuh Cie Stefanny kutarik lepas ke atas. Agak sulit aku melepaskan kaus itu karena begitu ketatnya kaus itu membalut tubuh Cie Stefanny. Aku segera melempar kaus yg kulucuti dari tubuh Cie Stefanny itu ke tempat yg sama dimana tadi aku melempar baju Cie Stefanny.Kini aku melihat kedua payudara Cie Stefanny yg masih terbungkus bra. Tidak begitu besar, kira kira hanya lebih besar sedikit dari milikku.Cie Stefanny hanya menatapku dgn ragu, lalu ia menunduk sambil tersenyum malu. Aku tak menyia nyiakan kesempatan ni dan segera melucuti sabuk yg dikenakan Cie Stefanny.Oh... Eliza... jangan..., Cie Stefanny kembali merengek, dan ia menatapku dgn pandangan memelas.Tapi aku tak perduli, kini aku berusaha melucuti celana jeans yg dikenakan Cie Stefanny. Resleting itu sudah kutarik turun dan kurasakan tubuh Cie Stefanny sempat menegang dan kedua telapak tangan Cie Stefanny menahan pergelangan tanganku, sepertinya Cie Stefanny tak ingin bagian bawah tubuhnya kutelanjangi.Perlawanan yg jelas jelas hanya dilakukan dgn setengah hati itu membuatku menggigit bibir dan menatap Cie Stefanny dgn penuh gairah. Kutarik paksa celana jeans itu dari pinggang Cie Stefanny dan terus kulorotkan sampai akhirnya lepas dari kedua kakinya yg indah itu.Aku melempar celana jeans itu ke arah kursi dimana baju dan kaos Cie Stefanny tergeletak.Nah, gini dong baru adil Cie, kataku sambil meleletkan lidah.Kamu..., Cie Stefanny memandangku gemas dgn senyum yg tertahan.Kini kami berdua sama sama hanya mengenakan bra dan celana dalam. Baru kali ni aku melihat tubuh Cie Stefanny dgn jelas, begitu ramping dan indah. Kulitnya putih sekali, mungkin lebih putih dari kulitku, membuat rambut Cie Stefanny yg lurus dan panjang itu tampak semakin hitam dan indah.Bra dan celana dlm warna putih bercampur coklat muda itu membuat tubuh Cie Stefanny begitu sexy dan menggairahkan. Wajah guru lesku yg cantik itu merona merah ketika ia menunduk malu, mungkin karena ia melihatku memperhatikan tubuhnya sampai sebegitunya.Sempat kuperhatikan, ada beberapa bagian dari kedua pangkal paha Cie Stefanny yg membekas merah, sepertinya bekas cupangan. Demikian jg kedua payudaranya Cie Stefanny, ada beberapa bekas cupangan juga. Dan celana dlm Cie Stefanny jg sedikit basah, mungkin karena sekarang ni Cie Stefanny sedang terangsang hingga cairan cintanya sedikit keluar membasahi celana dalamnya itu.Kunjungi JUga CeritaSexHot.OrgKeadaan Cie Stefanny ni membuatku menduga duga, apakah leceknya spreiku ni karena Cie Stefanny tadi sempat dipermainkan Wawan dan Suwito di atas ranjangku? Apakah beberapa bekas cupangan pd tubuh Cie Stefanny itu adlh hasil dari perbuatan mereka berdua?Kamu kenapa lagi Eliza..., Cie Stefanny bertanya dgn curiga dan khawatir.Nggak apa apa Cie... abisnya asyik ngeliatin Cie Cie yg sexy gini, aku mendesah dgn penuh gairah sambil kembali menindih Cie Stefanny, dan ujung rambutku jatuh terhampar di samping wajah Cie Stefanny.Eliza boleh kan sayang sama Cie Cie..., kataku di sela nafasku yg makin memburu.Mmhh... boleh sayang..., desah Cie Stefanny dgn pasrah dan menatapku dgn sayu.Kepasrahan Cie Stefanny membuatku tak tahan lagi untk mencumbuinya. Aku membelai pipi kiri Cie Stefanny, lalu mengecup mata dan bibirnya. Kurasakan tangan kanan Cie Stefanny melingkar di punggungku, memberikan belaian yg mesra. Aku sangat senang dan mendekap tubuh guru lesku ini, rasanya nyaman sekali.Mmmh... Eliza... kamu kok tiba tiba seperti ni sih... sejak kapan kamu jadi begini..., Cie Stefanny merintih ketika aku mencium lehernya.Aku diam sejenak, ingin rasanya aku menceritakan semua kejadian buruk yg menimpaku, termasuk penderitaanku siang tadi di tempat tambal ban itu, tapi aku pikir lebih baik kuceritakan nanti malam saja.Aku... nanti aja aku ceritakan Cie... sekarang aku cuma ingin menyayangi Cie Cie..., aku berbisik pelan di telinga Cie Stefanny.Ooh..., Cie Stefanny mengeluh pasrah ketika aku melanjutkan mengulum daun telinganya yg kiri.Tubuh Cie Stefanny menegang dan mulai gemetar. Cie Stefanny sudah sangat terangsang akibat perbuatan nakalku ini, dan dadanya terlihat naik turun mengiringi nafasnya yg mulai tak beraturan. Aku sendiri jg sedang diamuk birahi, yg mengalahkan semua rasa capek di tubuhku.Tapi... kalau kita begini terus... kamu kapan... belajar..., Cie Stefanny mendesah terputus putus di sela nafasnya yg memburu.Meskipun Cie Stefanny bertanya seperti itu, tak ada reaksi penolakan sedikitpun dari Cie Stefanny. Ia hanya pasrah sambil memejamkan matanya ketika aku masih terus memberikan rangsangan pd tubuhnya.Sebenarnya aku sendiri sangat lelah, ingin rasanya tidur sambil memeluk Cie Stefanny, tapi kata kata tadi itu membuatku sadar kalau sekarang ni aku masih harus belajar untk ulangan besok. Maka aku menyandarkan kepalaku di pundak kiri Cie Stefanny, lalu aku memejamkan mataku sambil berusaha menekan gairah birahiku yg membara ini.Iya Cie, sebentar ya..., aku mengguman dan tak bergerak gerak lagi, hanya menikmati empuknya tubuh Cie Stefanny yg berada di bawah tindihan tubuhku.Cie Stefanny sendiri jg hanya diam saja, tapi sesekali ia membelai punggungku. Aku merasa disayang oleh Cie Stefanny, dan itu membuatku senang sekali.Setelah beberapa menit, barulah aku mau melepaskan Cie Stefanny, dan duduk di sampingnya. Cie Stefanny sendiri jg duduk, dan kami saling berpandangan dgn mesra sambil tersenyum geli. Kini sambil sesekali tertawa kecil dan saling menggoda, kami berdua membahas apa yg harus kupelajari untk ulangan besok.Yang pasti, aku tahu sejak saat ini, les bahasa Inggris ni adlh les yg paling menyenangkan di antara semua les yg harus kuikuti.-x-II. Akibat Mencari Jawaban
Sekarang bagaimana, anak nakal? Kamu ni udah bisa dan sangat siap untk ulangan besok. Terus... masa Cie Cie masih harus menginap di sini?, tanya Cie Stefanny dgn senyum menggoda.Ciee... pleasee... temani aku yaa... sehari iniii aja..., aku merengek manja sambil merangkul Cie Stefanny.Iya iya... Tadi Cie Cie jg udah mau kok. Tapi... kamu hari ni benar benar aneh, Eliza..., guman Cie Stefanny sambil membelai rambutku.Aku menatap Cie Stefanny dgn mesra, lalu perlahan aku menyandarkan kepalaku di payudara Cie Stefanny yg masih terlindung bra ini. Rasanya aku tak ingin hari ni segera berakhir, aku masih ingin bermanja manja lebih lama di pelukan Cie Stefanny.Ko Melvin nggak marah kan Cie kalau aku sayang sama Cie Cie..., tanyaku bermaksud menggoda.Nggak, Cie Stefanny udah putus sama Melvin, kata Cie Stefanny membuat aku seperti mendengar petir di siang bolong.Apa..., tanyaku tak percaya.Udah nggak usah bicarain hal itu. Liat nih, gara gara kamu, pakai nelanjangin Cie Cie segala, sekarang perut Cie Cie mulas nih. AC kamarmu dingin sekali sih... aduh..., keluh Cie Stefanny sambil memegangi perutnya yg rata dan indah itu.Aduh... maaf ya Cie... ya udah Cie Cie ke WC dulu aja, aku tertawa geli dan beranjak ke lemari bajuku.Aku mengambilkan satu set baju milikku untk Cie Stefanny, baju rumah yg santai, lengkap dgn bra dan celana dalamku. Kuberikan semua itu jg handuk cadanganku, dan Cie Stefanny beranjak dari ranjangku ke kamar mandi di kamarku ini.Cie..., kataku tiba tiba, membuat Cie Stefanny menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku, dan tanpa berkata apapun aku langsung memeluk Cie Stefanny dan memagut bibirnya dgn penuh rasa mesra.Aku senang sekali karena pagutanku kembali berbalas, dan kami berciuman dgn panas untk beberapa saat lamanya, sampai akhirnya kami saling melepaskan pagutan ni dgn nafas yg tersengal sengal.Udah dong Eliza... Bisa bisa Cie Cie nggak jadi ke kamar mandi nih kalau pacaran sama kamu terus, kata Cie Stefanny sambil cemberut, dan sesaat kemudian kami berdua tertawa geli.Iya deh Cie... oh iya Cie Cie nggak boleh sungkan sungkan lho... pakai aja shampoo dan sabunku ya... nanti aku kasih bonnya kok, kataku sambil duduk di ranjangku dan menatap Cie Stefanny dgn senyum usil.Oh gitu ya... awas kamu nanti ya... dasar anak nakal..., kata Cie Stefanny sambil melirikku dgn ekspresi wajah kesal, dan setelah kami sama sama tertawa geli Cie Stefanny masuk ke kamar mandi.Aku tersenyum, rasanya senang sekali hari ni Cie Stefanny mau menginap di sini.Sekarang jam 17:30. Sebentar lagi papa mamaku, jg kokoku akan segera pulang. Setelah berpikir sejenak, aku memutuskan untk mencari jawaban tentang leceknya sprei ranjangku, sekaligus menanyai kedua pembantuku itu, apa yg telah mereka perbuat terhadap Cie Stefanny.Maka aku mengenakan baju rumah yg kuambil dgn asal pilih, lalu aku turun ke bawah menuju ke kamar mereka untk mencari mereka berdua.Tanpa mengetuk pintu, kubuka kamar mereka, dan kutemukan Wawan dan Suwito di dlm sana. Mereka terlihat agak terkejut melihat kedatanganku yg memasang muka kesal.Ada apa non, tanya mereka nyaris berbarengan.Iklan Sponsor :
Kalian... apa yg tadi kalian lakukan ke guru lesku? Nggak cukup ya kalian sehari hari memperkosa aku, sampai guru lesku ni jg kalian perkosa?, tanyaku dgn kesal.Entah Cie Stefanny masih virgin / tidak, tapi kalau sampai keperawanan Cie Stefanny terenggut oleh kedua maniak ini, bukankah aku jadi ikut merasa bersalah?Lho non, tadi itu kami memang main main sebentar dgn guru lesnya non. Tapi kami nggak sampai ngeseks kok, jawab Wawan dgn muka tak bersalah.Lalu kalau nggak ngeseks, kenapa badan Cie Cie itu bisa ada bekas merah merah? Memangnya main mainnya kalian itu seperti apa?, aku setengah membentak, entah mengapa aku tak rela kalau membayangkan Cie Stefanny dipermainkan oleh mereka berdua.Non, jangan marah dulu, biar kami jelaskan, kata Suwito yg beranjak berdiri lalu mendekatiku.Ketika Wawan melakukan hal yg sama, aku sadar akan terjadi sesuatu terhadap diriku. Aku mencoba untk mundur supaya aku berada di luar kamar ini, tapi Suwito lebih cepat, ia sudah menutup pintu kamar ini.Kalian mau apa?, tanyaku dgn panik.Lho non ni gimana? Tadi non nanya, gimana kami main main sama guru lesnya non, kata Suwito sambil cengegesan.Tadi itu begini ceritanya non... tiap hari Kamis jam setengah tiga itu biasanya non kan sudah selesai les, jadi kami mau menemani non tidur siang. Eh nggak tahunya bukan non yg ada di sana, tapi guru lesnya non itu yg lagi tidur, kata Wawan, yg begitu kata katanya selesai langsung mendekapku erat.Eh... jangan sekarang Wan..., aku mencoba meronta, aku tak ingin bermain seks menjelang pulangnya papa dan mamaku, apalagi di atas ada Cie Stefanny.Tenang aja non, sekarang non berbaring dulu lah, kata Wawan sambil menyeretku ke ranjangnya, lalu ia membaringkan tubuhku di atas ranjang.Kalian jangan gila, papa mamaku sebentar lagi pulang mmpphh..., kata kataku terhenti ketika Wawan melumat bibirku.Ini awalnya kami main main sama guru lesnya non. Selagi dia tidur, Wawan duduk di sebelah kanannya, terus langsung cium cium seperti itu, kata Suwito yg kulihat jg sedang mendekatiku.Kata kata Suwito ni membuatku sadar kini mereka sedang memperagakan apa yg tadi mereka lakukan terhadap Cie Stefanny untk menjelaskan semuanya padaku. Gilanya, aku malah terangsang dan pasrah menunggu apa yg akan mereka lakukan.Cerpen SexGuru lesnya non terbangun, meronta sebentar, tapi kedua tangannya saya tangkap seperti ini, kata Suwito sambil meraih kedua pergelangan tanganku, lalu disatukan di atas kepalaku dan ia memegang dgn erat sampai aku tak bisa bergerak lagi, hanya kakiku yg masih bebas, tapi jelas tak ada artinya karena aku malah mulai menikmati ketidakberdayaanku untk menggerakkan kedua tanganku ini.Nah, terus saya lepasi kancing bajunya, kata Wawan sambil melepasi kancing bajuku.Lalu tanpa berkata apa apa lagi, Wawan mulai membelai dan menciumi payudaraku, membuatku mendesah perlahan. Tangan Suwito yg satunya membekap mulutku, sungguhpun itu adlh hal yg tak perlu karena aku tak akan menjerit.Tapi aku tahu Suwito memang ingin ‘merekonstruksi’ apa yg tadi diperbuat olehnya terhadap Cie Stefanny. Demikian jg dgn Wawan. Aku sedang dijadikan model peraga mereka berdua untk menerangkan bagaimana mereka tadi melecehkan Cie Stefanny.Sungguh kurang ajar perbuatan mereka ini, tapi jujur saja aku benar benar menikmatinya. Kalau tadinya aku kesal karena mereka kurang ajar terhadap Cie Stefanny, kini aku malah semakin bergairah membayangkan Cie Stefanny tadi diperlakukan seperti ini.Tiba tiba kurasakan sedikit rasa sakit bercampur geli pd bagian payudaraku. Ternyata Wawan sedang sibuk mencupangi kedua payudaraku. Aku jadi semakin terangsang dan menggeliat perlahan, kedua kakiku kutekuk sedikit hingga telapak kakiku sepenuhnya menempel pd ranjang ini, lalu kutekankan ke bawah untk menahan rasa nikmat yg menjalari tubuhku.Jangan berteriak ya non, kata Suwito kepadaku, dan sambil melepaskan pegangannya pd kedua telapak tanganku, kepalaku ditekan, menuntun aku melakukan gerakan mengangguk.Nah, setelah guru lesnya non mengangguk, saya lepasin, kata Suwito sambil melepas bekapannya pd mulutku.Aku langsung mendesah karena Wawan menyupangi kedua payudaraku, dan ia mulai menyusu bergantian pd kedua puting payudaraku dgn rakus. Sementara itu Suwito melepas celananya, mengeluarkan senjatanya dan menyodorkan ke arah mulutku.Diisep non, perintah Suwito.Tangan si Suwito bergerak meraih kepalaku, dan menekan kepalaku ke arah selangkangannya. Kini aku mengoral penisnya Suwito, sementara Wawan menyibak rok yg kukenakan, lalu ia sudah sibuk menyupang kedua pangkal pahaku, bergantian.Aku mulai gemetar menahan nikmatnya rasa geli yg bercampur sedikit sakit ini.Sementara Suwito sendiri dgn bersemangat memompa mulutku sambil tangannya meraih payudaraku yg sebelah kiri, dan ia meremas dgn seenaknya, kadang lembut, kadang kasar dan menyakitiku.Mmph.., aku merintih ketika remasan pd payudaraku begitu kuat dan menyakitkan.Kedua pangkal pahaku sudah basah oleh air ludah Wawan, dan pasti sudah ada bekas cupangan di sana sini. Kini aku sudah tahu bagaimana bisa ada bekas cupangan di kedua payudara dan paha Cie Stefanny.Tiba tiba kurasakan jilatan pd selangkanganku yg masih terbungkus celana dlm ini. Aku menggeliat lemah, dan tak ada yg bisa kulakukan selain terus memberikan servis oral pd Suwito, yg entah kenapa cepat sekali hari ni dia sudah mencapai puncak.Ooh... non Elizaa... sepongan non memang nomer satuu..., Suwito meracau dan melolong, tubuhnya menggigil tanda penisnya sudah akan berejakulasi.Penis itu berkedut dan menyemprotkan cairan sperma ke dlm mulutku, hanya sedikit. Aku cepat menelan semuanya, sudah bosan hari ni aku merasakan genangan cairan sperma dlm mulutku. Setelah aku melaksanakan ‘kewajibanku’ untk mengulum penis itu sampai bersih, Suwito terduduk lemas di bawah sana, sementara Wawan masih sibuk menjilati celana dalamku hingga makin basah saja.Ya, kami baru sebentar menemani guru lesnya non, tiba tiba kami dengar suara mesin mobilnya non, jadi kami keluar dari kamar non dan lewat belakang, supaya tak ketahuan non, kata Suwito sambil cengengesan sambil menyulut sebatang rokok dan mulai menghisapnya.Ohh... sudah, hentikan... katanya kalian udah keluar... harusnya sekarang kan sudah selesai..., aku merintih ketika Wawan masih saja meneruskan cumbuannya pd liang vaginaku.Aku tak heran melihat Wawan tak perduli. Ia malah mengait bagian bawah celana dalamku, pastinya dgn jarinya, lalu setelah menarik bagian bawah celana dalamku hingga liang vaginaku terpampang di hadapannya, dgn rakus ia mencucup liang vaginaku, membuatku menggelepar keenakan.Walaupun aku minta Wawan menghentikan perbuatannya, aku sendiri sama sekali tak berusaha untk melepaskan diri, meskipun aku bebas bergerak. Aku malah pasrah dijadikan barang mainan oleh kedua pembantuku ini.Suwito sudah asyik mencucup puting payudaraku yg kiri setelah menaikkan braku sedikit, membuatku semakin tak berdaya dan memilih menikmati semua ini, walaupun aku sadar di atas itu ada Cie Stefanny yg mungkin akan bertanya tanya kalau aku tak segera kembali ke sana.Deru khas mesin mobil papaku di depan rumah menyelamatkanku dari pergumulan lebih lanjut dgn kedua pembantuku ini. Wawan dan Suwito segera melepaskanku, lalu mereka keluar untk membuka pintu gerbang, tentunya setelah mereka mengenakan baju seperlunya. Aku sendiri dgn panik segera keluar dari kamar ni sambil membetulkan letak braku yg sudah tak karuan, dan aku terus berlari menaiki tangga belakang menuju ke kamarku sambil mengancingkan bajuku.-x-III. Makan Malam
Jantungku masih berdegup kencang. Aku masuk ke dlm kamarku dan mengunci pintu. Ternyata Cie Stefanny masih berada di kamar mandi. Aku duduk di ranjangku sambil mati matian berusaha menekan gairahku yg masih amat tinggi setelah tadi aku dipermainkan kedua pembantuku di kamar mereka tadi.Aku sudah tahu penyebab leceknya sprei ranjangku ini. Ternyata benar seperti dugaanku, Cie Stefanny tadi sempat menjadi korban dua pembantuku yg sudah keranjingan menikmati tubuh gadis Chinese.Aku tahu Papa mamaku sudah pulang, kokoku jg harusnya sudah pulang, karena sebentar lagi kami aka makan malam. Maka aku terus berusaha untk tak memikirkan semua hal yg bisa membangkitkan gairahku terhadap Cie Stefanny. Lebih baik aku bertemu dgn semua keluargaku dlm keadaan yg wajar, bukan dlm keadaan bergairah seperti ini.‘Klik’, pintu kamar mandiku terbuka, dan Cie Stefanny keluar dgn rambut terurai, sedikit basah.Sungguh Cie Stefanny terlihat begitu cantik sexy di mataku. Aku memandangnya dgn tatapan mesra dan kagum, sementara Cie Stefanny sendiri setelah bertatapan denganku, menunduk dan tesipu malu.Oh, ingin sekali aku memeluk Cie Stefanny, mencumbuinya lagi, tapi aku mati matian menahan diri karena aku tahu masih banyak waktu untk itu nanti malam. Dan sekarang ni lebih baik kalau aku tak terus terusan membakar tubuhku dgn gairahku sendiri, supaya nanti aku punya cukup tenaga untk bercinta dgn Cie Stefanny.Cie, nanti makan sama sama ya Cie, tapi seadanya aja... nggak apa apa ya?, aku bertanya sambil duduk di atas ranjangku, sekalian mengistirahatkan tubuhku sejenak.Duh Eliza... makanya kamu ini, sekarang Cie Cie jadi nggak enak..., keluh Cie Stefanny dgn bingung.Yee, kenapa pakai nggak enak sih? Nggak apa apa lah Cie..., jawabku sambil berpikir.Aku baru sadar, berarti nanti Cie Stefanny akan bertemu kokoku.Sebenarnya mereka ni sempat berpapasan ketika Cie Stefanny akan pulang setelah les selesai, tepat ketika kokoku memasukkan mobil ke dlm garasi. Waktu itu, Cie Stefanny tak melihat kokoku, tapi kokoku melihat Cie Stefanny dari dlm mobilnya. Dan setelah Cie Stefanny pergi, kokoku waktu itu bilang kepadaku kalau Cie Stefanny itu cantik sekali.Sekarang ni Cie Stefanny udah putus dari pacarnya yg bernama Melvin itu. Jadi aku nggak merasa bersalah kalau aku ngenalin Cie Stefanny dgn kokoku. Dan kalau kami makan di rumah, mereka berdua akan bertemu muka untk pertama kalinya. Lalu nanti aku akan mengatur mereka duduk bersebelahan.Oh, senangnya kalau kelak ternyata mereka berdua bisa menjadi pasangan, berarti Cie Stefanny akan menjadi Cie Cie iparku.Iih... anak nakal, kenapa kamu senyum senyum?, tanya Cie Stefanny sambil mendekatiku dan dari gerak gerik tubuhnya aku tahu Cie Stefanny akan melakukan sesuatu terhadapku.Rupanya tadi itu tanpa sadar aku tersenyum membayangkan semua itu.Rahasia!, kataku sambil tersenyum geli dan meleletkan lidah.Auuw... ampun Cieee, aku mengeluh kesakitan ketika Cie Stefanny mencubit lenganku.Nggak ada ampun, kamu hari ni nakal sekali, kata Cie Stefanny sambil tertawa, dan mencubit lenganku yg satunya dgn gemas.Aduuh..., aku mencoba menghindar dgn menjatuhkan badanku ke ranjang, tapi tak kusangka Cie Stefanny malah menyergapku, dan sekarang ni ia menindihku. Untuk beberapa saat lamanya, kami saling bertatapan, dan tanpa ampun lagi gairahku langsung naik cepat.Eliza..., Cie Stefanny berbisik mesra padaku, terlihat sekali Cie Stefanny sendiri sedang diamuk gairah.Bisa ditebak, selanjutnya kami sudah berciuman dgn panas. Aku memeluk Cie Stefanny erat erat dan kami saling memagut bibir seperti layaknya sepasang kekasih. Kupejamkan mataku menikmati semua ini, bibirku kubuka perlahan menerima air ludah Cie Stefanny.Kutelan semuanya dgn cepat, lalu aku menyusupkan lidahku ke dlm mulut Cie Stefanny. Tubuhku bergetar ketika lidahku terjepit oleh bibir Cie Stefanny. Aku semakin melayang ketika kurasakan lidahku disedot masuk ke dlm mulut Cie Stefanny, tak ada yg bisa kulakukan selain merintih mesra.Pelukanku melemah seiring semakin sulitnya aku bernafas. Cie Stefanny sendiri jg tersengal sengal, dan kami saling melepaskan diri. Tapi Cie Stefanny dgn nafasnya memburu, mulai melepasi kancing bajuku. Dengan penuh gairah aku sendiri jg melakukan hal yg sama, aku sudah tak sabar untk bercinta dgn Cie Stefanny.‘tok tok tok...’, suara pintu kamarku yg diketuk membuat kami berdua berhenti.Eliza, ayo turun, waktunya makan malam..., aku mendengar suara mamaku.Iya maa..., aku cepat menjawab.Batal saling menelanjangi, Cie Stefanny dan aku dgn panik langsung berusaha mengancingkan semua kancing baju kami masing masing, dan jg merapikan rambut kami yg sedikit awut awutan ini.Sudah ditungguin semua lho... Mama tunggu di bawah ya, Eliza..., kata mama lagi.Iya ma, Eliza turun bentar lagi..., aku menjawab lagi.Akhirnya kami berdua selesai merapikan baju dan rambut kami yg sedikit awut awutan ini. Aku dan Cie Stefanny saling pandang dan tertawa geli, melihat tubuh kami yg bisa bisanya berkeringat di kamar dgn AC sedingin ini.Kini kami berdua keluar kamar. Aku menggandeng tangan Cie Stefanny dan kami berdua berjalan menuruni tangga menuju ke ruang makan.Eh... ada temanmu toh... Kamu kok nggak bilang sih Eliza?, tegur mamaku.Ma, ni kan Cie Stefanny, guru les bahasa Inggrisnya Eliza. Sorry ya ma, ni tadi Eliza lupa waktu, masih sibuk belajar untk ulangan besok, cerpensex.com terus Eliza masih ada yg belum bisa. Jadi Cie Stefanny mau menginap di sini, untk ngajarin Eliza sampai nanti agak malam, aku menjawab sekaligus memberikan alasan mengajak Cie Stefanny menginap di sini, tentunya di kamarku.Alasan yg benar benar spontan terpikir begitu saja. Meskipun aku sudah selesai belajar, tapi lebih baik kalau mereka berpikir Cie Stefanny menginap di sini karena mau mengajariku untk ulangan besok.Dengan begitu aku tak usah berpikir keras mencari alasan mengapa aku mengajak guru lesku menginap, dan lebih lagi, mereka tak akan menggangguku malam ini, semalam bersama Cie Stefanny yg cantik.Suk... Ai... Ko..., Cie Stefanny menyapa semua keluargaku.Oh iya, Stefanny ya, Ai kira teman Eliza... Aduh... kamu sekarang jadi makin ayu ya... Ai sampai pangling lho... Ini si Eliza kok jadi ngerepotin, makasih ya Stefanny, kata mamaku yg tersenyum hangat pd Cie Stefanny.Oh... nggak... nggak apa apa kok Ai, Stefanny suka kok mm... ngajarin Eliza, kata Cie Stefanny tergagap dan tersipu malu.Ayo Stefanny, duduk dan makan bersama, ajak papaku.Iya, makasih Suk, jawab Cie Stefanny dgn kikuk.Aku segera memperhatikan kokoku. Ternyata kokoku tak berani melihat ke arah Cie Stefanny, dan ia malah menunduk, mukanya memerah. Diam diam aku tersenyum geli melihat hal ni dan sifat usilku segera kambuh. Aku menggandeng Cie Stefanny yg hanya menurut saja ke kursi di sebelahnya kokoku.Ko, disapa sama Cie Cie kok nggak jawab sih? Nggak sopan ah, aku pura pura menegur dgn kesal sambil membuka kursi itu supaya di acara makan malam ni Cie Stefanny duduk di sebelah kokoku.Eh... itu... iya... Aku Hengki, kokoku dgn panik menjawab dan makin salah tingkah.Setelah menatap sekilas ke arah Cie Stefanny, lalu ke arahku, kokoku segera menunduk lagi sambil tersenyum malu, jelas sekali kalau kokoku jadi salah tingkah.Aku Stefanny, kata Cie Stefanny dgn suara pelan. Cie Stefanny menggigit bibirnya sejenak, lalu ia jg menunduk dan tersenyum malu.Kok nggak ngajak salaman sih ko? Masa kenalan kok seperti orang ketakutan gitu... Cie Stefanny ni baik kok, nggak nggigit. Eliza jamin deh ko, aku semakin usil menggoda mereka berdua.Oh iya..., kata kokoku dgn suara yg terdengar jelas gemetar, tapi kokoku berdiri mengulurkan tangannya mengajak Cie Stefanny bersalaman.Aku sekuat tenaga berusaha menahan tawa melihat keduanya bersalaman dgn begitu canggung dan malu malu. Apalagi sekilas aku melihat papa mamaku tersenyum senyum. Selesai mereka bersalaman, aku tak menduga tiba tiba Cie Stefanny dgn diam diam mencubit pinggangku.Auuw..., aku mengeluh kaget dan tertawa kegelian.Kenapa Eliza? tanya mamaku heran.Enggak apa apa ma, tadi kaki Eliza ada yg nginjak... nggak sengaja sih, aku malah makin usil menggoda Cie Stefanny, yg kini sama sekali tak bisa berbuat apa apa untk membalasku.Duduk sini ya Cie, kataku sambil ‘membimbing’ Cie Stefanny untk duduk di sebelah kokoku.Sempat aku melihat Cie Stefanny menatapku dgn pandangan protes, tapi aku tak perduli dan cepat cepat meninggalkan mereka dan duduk di sebelah mamaku, tentunya dgn perasaan menang di dlm hati melihat Cie Stefanny yg diam diam menatapku dgn gemas.Kalau gitu kebetulan. Tadinya papa dan mama bermaksud meninggalkan kokomu di rumah untk menemani kamu di rumah, sayang. Tapi kalau ada Stefanny yg menemani kamu, nanti setelah makan kokomu bisa ikut papa dan mama menginap di hotel ***** malam ini, untk menemani tamu papa dari luar kota, kata papaku.Oh ya, nggak apa apa kok Pa, kataku berusaha untk bersikap tenang.Padahal saat ni aku amat senang dan jantungku berdegup kencang, membayangkan nanti malam aku bisa bercinta dgn Cie Stefanny sepuas hati dan tak perlu menahan segala rintihan ataupun lenguhan saat aku tenggelam dlm kenikmatan bersama Cie Stefanny.Maka acara makan malam ni dimulai, dan disemarakkan perkenalan kokoku dan Cie Stefanny yg masih sama sama kuliah ini. Walaupun tak terlihat banyak mengobrol, aku tahu sekarang ni kokoku pasti senang sekali bisa berkenalan dgn Cie Stefanny. Papa mamaku jg terlihat suka mengobrol dgn Cie Stefanny.Aku makan dgn tenang, dan tak terlalu berusaha menggoda Cie Stefanny dan kokoku, supaya mereka tak semakin canggung selama di meja makan ini. Tanpa sadar aku sendiri mulai melamunkan keadaanku. Kapan, aku bisa seperti ni sama Andi?-x-IV. Menggoda Cie Stefanny
Kok melamun, Eliza? Lagi mikirin apa sayang?, aku tiba tiba dikagetkan mamaku yg memelukku dari belakang dgn lembut.Eh... mama... enggak..., kataku sambil tersenyum malu dan memeluk tangan mamaku.Ya udah, ayo... sudah selesai belum makannya? Tinggal kamu yg masih di meja makan., kata mamaku, membuatku sadar.Ma, Cie Stefanny mana?, tanyaku sambil mengalihkan pandanganku ke seputar ruang tamu dan ruangan utama, dan kemudian aku sudah menemukan jawabannya.Cie Stefanny, sedang bersama kokoku di sofa ruang utama. Benar benar pemandangan yg jarang, karena kokoku itu lebih sering bersama teman teman cowoknya, / kalau tak ya sibuk dgn komputernya di kamarnya sendiri.Baru kali ni aku melihat kokoku antusias mengobrol dgn cewek, dan mereka berdua entah sedang terlibat obrolan apa, yg pasti mereka terlihat akrab dan penuh canda tawa. Lagi lagi aku tersenyum senang melihat itu semua.Stefanny itu orangnya baik ya, Eliza..., kata mamaku sambil melepaskan pelukannya dariku.Iya ma, Cie Stefanny itu orangnya baik, sabar, pintar lagi Ma. Pokoknya Cie Stefanny itu guru lesnya Eliza yg paling baik... auww..., aku mengaduh karena kedua pipiku dicubit mamaku.Sudah sudah, nggak usah promosi. Mama jg tau kok... kamu sudah berapa kali bilang kalau kamu senang sekali mendapat guru les seperti Stefanny, kata mamaku sambil melihat ke arah kokoku dan Cie Stefanny yg lagi tertawa di ruang utama.Ih mama, gitu jg masa Eliza dicubit... sakit nih, aku merajuk manja, walaupun diam diam aku makin senang karena melihat cara mamaku menatap Cie Stefanny, aku merasa mamaku pasti suka kalau Cie Stefanny itu bisa jadian sama kokoku.Kamu ni sudah besar, masih saja manja seperti anak kecil. Sudah ayo piring kotornya diangkat, kata mamaku sambil tertawa.Iya ma, aku segera berdiri, mengangkat piringku dan membawa ke dapur.Aku melihat jam, ternyata sudah jam 7:30 malam. Aku sebenarnya tak ingin segera merebut Cie Stefanny dari kokoku, tapi aku harus memperlihatkan kalau aku masih harus ‘belajar’ seperti kataku tadi, supaya mama papaku tak curiga.Selain itu, mungkin hal ni malahan bisa membuat kokoku berusaha mencari Cie Stefanny, semoga...Ehm..., aku sengaja berdehem ketika aku sudah ada di ruang utama.Mereka berdua langsung melihat ke arahku, lalu keduanya tertunduk malu. Sifat usilku kembali kambuh, dan aku jadi semakin ingin menggoda mereka.Koko ini, tadi aja... disapa Cie Stefanny nggak jawab... Sekarang aku mau belajar sama Cie Stefanny, eh Cie Cie malah diculik ke sini. Gimana sih?, kataku lagi dgn pura pura sedikit kesal.Ini... anu..., kokoku tergagap panik.Sedangkan Cie Stefanny sempat melotot padaku sekilas, tapi kemudian ia hanya bisa menunduk dan menggigit bibirnya sambil tersenyum malu sekali.Ya udah, sekarang waktunya Cie Stefanny nemani aku ya, kalau kalian belum selesai, sekarang tukeran nomer handphone dulu deh, jadi besok kan bisa dilanjutin, kataku lagi, sekali ni dgn menahan tawa.Oh iya, kalau gitu boleh ya aku simpan nomer handphonemu ya Stefanny, kata kokoku sambil mengeluarkan handphonenya. Yee... harusnya kokoku ni berterima kasih lho sama adiknya ni :pIya boleh, kata Cie Stefanny dgn suara yg pelan.Aku mati matian menahan geli selagi mereka yg dgn sikap malu malu bertukar nomer handphone mereka. Ketika mereka saling missed call dan menyimpan nomer dlm handphone masing masing, aku melihat papa dan mamaku menghampiri kami semua di ruang utama ini. Maka aku mendekati Cie Stefanny dan merangkul tangan kanannya.Ayo Cie, sekarang sama Eliza dulu, besok besok aja baru sama koko, lagian koko itu kan udah mau pergi, kataku sambil meleletkan lidah ke kokoku.Sudah ya, tukar tukaran nomer hanpdhonenya?, mamaku malah ikut menggoda mereka berduaEntah bagaimana keadaan Cie Stefanny, tapi aku tak bisa lagi menahan geli hingga aku tertawa sambil menutup mulutku melihat kokoku yg tak bisa berbuat apa apa selain salah tingkah dgn wajah yg merah seperti kepiting rebus, Kalau sudah, ayo kita pergi. Stefanny, kami berangkat dulu, titip Eliza ya. Eliza, jangan bikin repot Stefanny ya, kata papaku berpamitan.Oh... iya Suk, Ai, kata Cie Stefanny yg terus menunduk malu.Lho lho? Koko kok nggak pamitan sama Cie Stefanny sih?, aku memprotes dgn pura pura kesal.Oh... itu... Stefanny, aku pergi dulu ya, kata kokoku dgn suara yg pelan.Iya..., kata Cie Stefanny dgn suara yg tak kalah pelannya.Mereka semua keluar menuju ke garasi, dan aku dgn senang menarik Cie Stefanny pergi menuju kamarku.-x-V. Bercinta Dengan Cie Stefanny
Eliza... kamu ni nakal sekali ya..., Cie Stefanny berbisik dgn suara pelan sekali saat kami menaiki tangga, tapi aku bisa merasakan kalau Cie Stefanny mengatakan hal itu dgn gemas sekali.Aku hanya tertawa geli dan terus menuju kamarku. Setelah kami masuk dan aku mengunci kamar, tiba tiba saja Cie Stefanny memelukku dari belakang dan menyusupkan kedua tangannya, mencari dan meremas kedua payudaraku dgn lembut.Ouw... Cie..., aku mengeluh, terangsang.Anak nakal... sekarang kamu Cie Cie hukum, desah Cie Stefanny di sela nafasnya yg memburu.Ampun Ciee..., aku menggeliat terbakar gairah ketika Cie Stefanny yg tak melepaskan remasannya pd kedua payudaraku, menarik tubuhku sampai ke tepi ranjang.Enak aja kamu minta ampun... udah bikin Cie Cie malu tadi..., kata Cie Stefanny gemas dan memperkuat remasannya pd kedua payudaraku.Aduuh... mmmh... malu kenapa Cie..., aku merintih tapi masih jg nekat menggoda Cie Stefanny.Kamu iniii... masih pakai nanya lagi... awas ya..., Cie Stefanny menarikku sampai kami berdua jatuh terduduk di atas ranjangku dan kini tubuhku ada di pangkuan Cie Stefanny.Aku sama sekali tak berniat kabur, kubiarkan Cie Stefanny memelukku dan meremasi kedua payudaraku.Malah tubuhku kusandarkan pd Cie Stefanny, dan kupegang kedua punggung telapak tangan Cie Stefanny yg masih meremasi kedua payudaraku dgn lembut. Dada Cie Stefanny yg menempel di punggungku membuatku bisa merasakan degup jantung Cie Stefanny yg begitu cepat. Aku sendiri jg dlm keadaan yg sama, bedanya aku lebih bisa menguasai diriku, setelah beberapa kali aku harus pasrah ‘diperkosa’ Sherly dan Jenny. Mungkin gara gara perbuatan mereka berdua itu, hingga membuatku menjadi suka dgn sesama wanita seperti ini.Sudah sejak tadi sebelum les, aku menahan gairahku untk bermesraan dan bercinta dgn Cie Stefanny. Sedangkan Cie Stefanny sendiri tampaknya masih canggung dan malu malu, sama seperti diriku waktu pertama kali digoda Sherly, lalu Jenny. Aku bisa merasakan tangan Cie Stefanny agak gemetar waktu meremasi kedua payudaraku ini.Maka aku memutuskan untk ‘memaksa’ Cie Stefanny bermesraan denganku.Kutarik lepas kedua tangan Cie Stefanny dari payudaraku, lalu aku membalik badan dan menarik lepas baju rumahan yg kukenakan, tentu saja kemudian aku jg menarik lepas baju yg dikenakan Cie Stefanny. Mudah saja aku melakukannya, karena baju rumahanku memang longgar untk ukuran tubuhku, sedangkan ukuran tubuh Cie Stefanny sama sekali tak beda dgn ukuran tubuhku.Selain itu memang tak ada perlawanan dari Cie Stefanny yg sudah pasrah. Muka Cie Stefanny semakin merah ketika aku merangkulkan tanganku ke belakang punggung Cie Stefanny, melucuti bra yg dikenakannya.Cie Cie takut ya, aku berbisik mesra pd guru lesku ni sambil membuang bra itu ke samping ranjang.Mmm... nggak tau..., Cie Stefanny hanya menggeleng lemah dgn ragu.Perlahan aku meraih celana dlm Cie Stefanny dgn kedua tanganku. Setelah jari jari tanganku mengait bagian celana dlm di kedua pinggangnya, kutarik lepas ke bawah dgn perlahan. Aku tahu ni akan membuat Cie Stefanny sangat terangsang, ditelanjangi secara perlahan seperti ini.Eliza..., desah Cie Stefanny.Iya Cie..., aku pura pura perhatian dan bertanya, tapi aku terus melorotkan celana dlm Cie Stefanny sampai akhirnya lepas dari kedua kakinya yg indah ini.Cie Cie ni mau kamu apain..., tanya Cie Stefanny dgn suara bergetar sambil memejamkan matanya.Eliza mau liat Cie Cie nggak pakai baju. Boleh kan Cie? tanyaku dgn manja.Cie Stefanny hanya diam dan menggigit bibirnya.Tapi kalau Cie Cie masih virgin, Eliza pasangkan lagi celana dlm ini, Cie, kataku sekalian memastikan apakah Cie Stefanny masih virgin / tidak.Nggak... Cie Cie udah nggak..., Cie Stefanny menggeleng lemah, matanya tetap terpejam.Aku membuang celana dlm itu ke samping ranjang, lalu aku merangkak, lututku sengaja kutempelkan di depan selangkangan Cie Stefanny yg sudah terbaring pasrah di atas ranjangku. Tanpa menindih tubuh Cie Stefanny, perlahan aku membelai wajah guru lesku yg cantik ni dgn kedua tanganku.Kurasakan tubuh Cie Stefanny menegang sesaat, tapi kembali melemas.Dengan nafas yg mulai memburu, aku melanjutkan belaianku ke bawah, menyusuri leher Cie Stefanny yg mulus dan jenjang ni perlahan, menggunakan semua ujung jari tanganku. Cie Stefanny hanya mendesah dan matanya tetap terpejam pasrah.Kini aku membelai pundak Cie Stefanny, kemudian lengan bagian luar dan terus ke bawah. Aku menikmati pemandangan di depanku, ekspresi wajah Cie Stefanny yg seperti menahan sakit, dgn bibirnya yg terkatup erat sejak tadi itu terbuka sedikit. Aku menemukan telapak tangan Cie Stefanny, dan setelah kugenggam lembut, kami saling meremas jemari tangan kami.Aku merentangkan tangan Cie Stefanny, lalu menekuk tangannya ke atas. Kulepaskan genggamanku, lalu aku menyusuri kulit lengan itu perlahan, kembali ke bagian dada Cie Stefanny.Ohh..., Cie Stefanny merintih pelan.Cerpen SexKenapa Cie..., tanyaku dgn mesra.Kamu nakal... sayang..., desah Cie Stefanny.Aku hanya tersenyum tanpa menjawab, dan jari tanganku terus kugerakkan melingkari payudara Cie Stefanny. Kini tubuh Cie Stefanny mulai menggeliat pelan. Aku tahu Cie Stefanny menginginkan sentuhan ataupun rangsangan pd kedua puting payudaranya, tapi aku sengaja menurunkan belaianku ke bawah tanpa menyentuh puting payudara Cie Stefanny.Mmmh..., Cie Stefanny merintih dan menatapku seperti kecewa and memohon, membuatku harus sekuat tenaga menahan gairahku untk tak langsung mencumbui Cie Stefanny.Sekarang ni aku ingin menggoda Cie Stefanny sampai terangsang dahulu, supaya nanti ketika kami bercinta, Cie Stefanny tak lagi canggung ataupun malu malu. Aku yakin ni pengalaman pertama Cie Stefanny bercinta dgn sesama wanita, dan aku ingat keadaanku dulu. Butuh waktu yg cukup lama sebelum aku bisa membalas kemesraan Sherly dan Jenny.Aku ingin Cie Stefanny terbiasa dgn hal ini, supaya nanti aku bisa bercinta sepuas puasnya dgn guru lesku yg cantik ini.Kini perut Cie Stefanny yg rata ni kubelai dgn lembut, sementara pemiliknya hanya bisa menggeliat lemah. Dan ketika belaianku sampai ke pangkal paha Cie Stefanny, aku sedikit menggerakkan lututku ke depan sesaat, menekan vagina Cie Stefanny hingga guru lesku ni langsung merintih dan mendesah, tubuhnya mengejang lemah.Kemudian aku merangkak mundur, karena aku akan melanjutkan membelai kedua kaki Cie Stefanny. Tapi tentu saja aku tak lupa menggoda Cie Stefanny dulu. Tanpa sekalipun menyentuh liang vagina milik Cie Stefanny, aku menggerakkan jemariku melingkari sekitar bibir liang vagina itu, dan sesekali kutekan dgn lembut.Oooh..., Cie Stefanny mengerang pelan.Ternyata memang itu sudah lebih dari cukup, Cie Stefanny mulai menggerakkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri perlahan, dgn kepalanya yg sedikit terangkat Cie Stefanny menatapku dgn pandangannya yg memelas, seperti memohon padaku untk memberikan sentuhan jariku pd bibir liang vaginanya.Aku tak berniat mengabulkan permohonan Cie Stefanny secepat itu. Aku ingin menggodanya sampai gairahnya benar benar memuncak dan membangkitkan sisi liar Cie Stefanny. Kini aku mulai membelai kedua paha Cie Stefanny perlahan sementara Cie Stefanny mulai menggigil terangsang.Aku tak perduli dan belaian jemariku sudah sampai di ujung jari kaki Cie Stefanny. Dengan lembut aku menyentuh tiap bagian di antara jari kaki Cie Stefanny, membuat guru lesku ni semakin menggeliat.Eliza... kamu..., keluh Cie Stefanny, pastinya antara geli dan terangsang.Aku menatap Cie Stefanny mesra tanpa menjawab, dan Cie Stefanny yg dadanya sudah naik turun karena nafasnya yg mulai tak beraturan itu hanya memalingkan wajahnya yg merona merah, pasrah membiarkan aku mempermainkan gairahnya sesuka hatiku.Aku merasa Cie Stefanny masih terlalu malu untk mengekspresikan gairahnya. Tapi aku tak menyerah, aku kembali melanjutkan belaian jemariku ke atas, dan sekali ni aku mulai menggunakan telapak tanganku.Kedua betis Cie Stefanny yg pertama menjadi sasaranku, kubelai dgn lembut dan akhirnya belaian tanganku sampai ke bagian ke belakang lutut Cie Stefanny.Sshh..., Cie Stefanny mendesah pelan.Aku merasakan kedua kaki Cie Stefanny sudah mulai mengejang perlahan, dan aku melanjutkan ke bagian paha, dan terus ke atas. Aku sempat membelai bibir vagina Cie Stefanny dgn gerakan seperti tak sengaja.Eliza..., desah Cie Stefanny sambil menatapku.Iya Cie..., aku menjawab pelan dgn suara yg sedikit bergetar.Aku sendiri sebenarnya jg sedang diamuk gairaku sendiri. Tapi kelihatannya Cie Stefanny sudah tak tahan lagi, tiba tiba ia meraih tubuhku dan memeluk erat. Belum lagi aku bereaksi, bibirku sudah dipagut dgn ganas oleh Cie Stefanny.Mmmh..., aku merintih mesra dan membalas ciuman ni dgn sepenuh hati.Kudorong Cie Stefanny sampai kembali terbaring di ranjangku. Kini aku menindih Cie Stefanny, dgn kedua payudara kami saling menggesek dan sesekali puting payudara kami saling bersentuhan.Akibatnya gairah kami makin menjadi jadi. Cie Stefanny menjepit paha kiriku di antara kedua pahanya, aku sendiri balas menjepitkan paha kananku hingga kami seperti sedang bergulat. Perlahan kurasakan liang vagina Cie Stefanny yg sudah mulai membasah itu bergesekan dgn pahaku.Kini saatnya aku menggoda liang vagina Cie Stefanny. Selagi kami masih asyik berpagut, kuturunkan tangan kiriku mencari bibir vagina Cie Stefanny. Begitu jari telunjukku menemukan bibir vagina Cie Stefanny, segera kucelupkan perlahan.Angghk..., Cie Stefanny melenguh kaget dan menggeliat.Pelukan Cie Stefanny terlepas. Aku mulai menggunakan tangan kananku untk membelai dan meremas kedua payudara Cie Stefanny bergantian. Dan yg pasti jari telunjuk kiriku terus kudorong masuk sampai terbenam seluruhnya di dlm liang vagina Cie Stefanny.Hangat... licin... dan yg terutama denyutan denyutan dlm liang vagina Cie Stefanny benar benar membuatku makin bergairah dan tanpa bisa kutahan lagi, tanganku yg masih menempel di atas payudara Cie Stefanny kuremaskan dgn kuat pd payudara Cie Stefanny hingga guru lesku ni kembali menggeliat.Aduuh... Eliza... sakit..., keluh Cie Stefanny, dan aku sudah bisa merasakan nada manja dari suara Cie Stefanny.Mana yg sakit Cie..., tanyaku dgn nada menggoda.Cie Stefanny menatapku dgn gemas, dan tiba tiba kedua tangan Cie Stefanny bergerak, dan sekarang kedua payudaraku balik diremas oleh Cie Stefanny.Oooh... Cieee..., aku mengeluh terangsang.Tak hanya remasan yg kurasakan, kini kedua putingku rasanya seperti terjepit. Aku melihat sejenak, ternyata kedua puting payudaraku dijepit jari telunjuk dan jari tengah kedua tangan Cie Stefanny, sementara tiga jari lainnya memberikan tekanan pd masing masing bukit payudaraku, seperti sedang meremas saja.Dan untk makin menyiksaku, kedua jari tangan Cie Stefanny itu tak hanya menjepit puting payudaraku, tapi mulai memilin milin hingga aku mulai merintih dan terangsang hebat. Aku sudah tak tahan lagi, dan aku kembali menatap Cie Stefanny, kali ni ganti aku yg memelas.Cie... cium Eliza dong, aku merintih dan memohon, tangan kananku terkulai lemas ke bawah karena tenagaku sekarang ni entah lenyap ke mana.Iya sayang..., desah Cie Stefanny, yg kemudian lebih menekuk siku tangannya hingga tubuh kami kembali menyatu.Kami kembali saling berpagut mesra, tanpa lupa untk terus saling merangsang. Cie Stefanny masih terus mempermainkan kedua payudaraku jg putingnya, sementara aku kembali meliuk liukkan jari telunjuk tangan kiriku dlm liang vagina Cie Stefanny.Ooh... sayang... kamu nakal..., Cie Stefanny merintih ketika aku mempercepat gerakkan jari telunjuk tangan kiriku dan terus mengaduk liang vagina Cie Stefanny.Cie Cie juga..., aku sendiri jg merintih mesra dan melingkarkan tangan kananku di belakang bahu Cie Stefanny.Ngghh..., Cie Stefanny melenguh ketika aku menusukkan jariku sambil mengait dinding liang vaginanya.Kini Cie Stefanny sudah mulai tak mampu menguasai dirinya. Tubuhnya tertekuk ke belakang sesaat dan roboh terbaring ke ranjang ketika aku terus menggoda liang vaginanya. Kedua kakinya tertekuk sedikit, dan sesekali mengejang. Cairan cinta Cie Stefanny mulai membasahi liang vaginanya. Aku tahu sekarang ni Cie Stefanny tak akan merasa begitu sakit kalau aku mengikutkan jari tengahku untk mengaduk aduk liang vaginanya.Kamu... kamu mau apa Eliza..., rintih Cie Stefanny ketika ujung jari tengahku mulai menguak membuka jalan ke liang vaginanya yg sudah menampung jari telunjukku.Nggak apa apa Cie... ni nggak sakit kok..., aku mendesah dlm keadaan terbakar gairah dan memang sekarang ni jalan masuk ke dlm liang vagina Cie Stefanny sudah begitu licin, dan dgn mudah aku mencelupkan jari tengahku bersama jari telunjukku ke dlm liang vagina guru lesku ini.Angghk..., Cie Stefanny kembali melenguh.Aku mendiamkan kedua jariku sejenak supaya Cie Stefanny bisa beradaptasi. Sementara itu aku beranjak dan berbaring miring di samping Cie Stefanny, tentu saja dgn kedua jariku yg masih tercelup mengait liang vagina Cie Stefanny.Sakit ya Cie..., aku berbisik menggoda Cie Stefanny.Iya..., keluh Cie Stefanny dgn manja.Tapi enak kan Cie..., kataku sambil mulai mengaduk liang vagina Cie Stefanny dgn kedua jariku.Auww... iyaah..., erang Cie Stefanny keenakan dan memiringkan tubuhnya menghadap ke arahku, dan menggeliat pasrah.Aku menggunakan kesempatan ni untk mengecup lembut mata Cie Stefanny yg terpejam erat. Tak ada lagi perlawanan dari Cie Stefanny yg kini tubuhnya mengejang hebat dlm pelukanku. Cie Stefanny sudah berhenti meremasi kedua payudaraku, sekarang ia hanya bisa merintih dan mendesah, bergulat dgn kenikmatan yg mendera liang vaginanya.Berulang kali tubuh Cie Stefanny tersentak ketika aku mulai menirukan gerakan kaki orang berjalan dgn kedua jariku yg masih terbenam dlm liang vaginanya.Aduh... Elizaa... Cie Cie... mau... pipis... ngghhh..., Cie Stefanny melenguh panjang, dan tubuhnya mengejang berulang ulang.Rupanya Cie Stefanny sudah dilanda orgasmenya. Cairan cintanya membanjir dan membuat liang vagina guru lesku ni begitu becek. Aku sama sekali tak menurunkan kecepatan adukan jari tanganku pd liang vaginanya hingga terdengar bunyi kecipak cairan cinta Cie Stefanny yg teraduk aduk itu, di antara desahan dan lenguhan yg amat sexy dan menggairahkan itu.Eliza... sebentar... berhentii... duluu... angghhk..., Cie Stefanny terus merengek dan memohon, tapi tak ada yg bisa dilakukan Cie Stefanny selain melenguh ketika aku malah menyusu pd puting payudaranya yg kiri.Tubuh Cie Stefanny terus menggelepar dan mengejang, karena aku sama sekali tak menghentikan adukan kedua jari tanganku di dlm liang vaginanya. Selain itu aku malah mencumbui kedua payudara Cie Stefanny dgn nakal.Ngghh... sudah... Elizaa... ampun..., Cie Stefanny melenguh tanpa daya, tubuhnya mengejang dan tertekuk sexy, kemudian kurasakan cairan cintanya kembali membanjir, sementara kedua betis Cie Stefanny melejang tak karuan.Aku kasihan jg melihat Cie Stefanny didera multi orgasme. Kedua jariku kini kudiamkan terbenam dlm liang vagina Cie Stefanny, menikmati tiap denyutan otot liang vagina Cie Stefanny.Kulumanku pd puting payudara Cie Stefanny jg kuhentikan, kini aku menikmati pemandangan indah di depanku, wajah Cie Stefanny yg menggambarkan dgn jelas kalau dirinya terangsang hebat, dgn matanya yg terpejam erat dan nafasnya yg tersengal sengal, sedang pasrah menghadapi semua kenakalanku.Tubuh Cie Stefanny berkeringat banyak sekali, dan sesekali Cie Stefanny mendesah. Aku memeluk guru lesku yg sejak hari ni pasti menjadi guru les kesayanganku ini.Cie... capai ya..., tanyaku dgn mesra.Mmm..., Cie Stefanny masih terlalu lemas untk menjawab.Perlahan aku menarik lepas jariku dari jepitan liang vagina Cie Stefanny. Aku melihat kedua paha Cie Stefanny mengejang tepat ketika ujung jariku keluar dari jepitan liang vaginanya. Benar benar satu pemandangan yg membangkitkan gairahku, membuatku ingin menggoda Cie Stefanny.Perlahan aku bergerak ke arah selangkangan Cie Stefanny. Selagi mata guru lesku ni masih terpejam, aku mendekatkan wajahku ke liang vaginanya.Ngghkk... auww..., Cie Stefanny kembali melenguh sejadi jadinya ketika aku mencucup bibir vaginanya guru lesku ini.Aku terus menyeruput cairan cinta Cie Stefanny sepuas puasnya sampai tak tersisa, sementara Cie Stefanny terus menggelinjang kegelian dan menggelepar keenakan.Sayang... Cie Cie udah nggak kuat..., erang Cie Stefanny memelas.Udah selesai kok Cie..., kataku sambil menindih tubuh Cie Stefanny.Ooh..., keluh Cie Stefanny dgn manja ketika aku memeluknya mesra.Eliza sayang Cie Cie..., kataku pelan sambil menatap mata Cie Stefanny dgn sayu.Cie Cie jg sayang kamu... anak nakal..., bisik Cie Stefanny lemah sambil melingkarkan kedua tangannya ke belakang punggungku.Belaian tangan Cie Stefanny pd rambutku membuatku makin merasa nyaman. Aku menyusupkan wajahku di dlm rambut Cie Stefanny yg terhampar di sisi kiri kepalanya. Walaupun bercampur keringat saat kami bercinta tadi, baunya wangi menyenangkan, membuatku ingin tidur dlm posisi seperti ini.-x-VI. Cerita Sedih
Agak lama kami saling berdiam diri dlm posisi seperti ini, kini nafas kami sama sama mulai teratur. Tapi kami masih berpelukan dgn mesra, dgn posisi tubuhku yg menindih Cie Stefanny. Sesekali aku mencium bibir Cie Stefanny yg cuma bisa pasrah menghadapi kenakalanku ini. Tapi tiap ciumanku selalu berbalas, dan aku menikmati belaian tangan Cie Stefanny pd rambutku dan jg punggungku.Eliza... sekarang kamu mau cerita nggak, kenapa kamu hari ni jadi nakal seperti ni dan mengajak Cie Cie bercinta?, tanya Cie Stefanny dgn lembut sambil menyibakkan sebagian rambutku yg tergerai jatuh menutup keningku.Aku mengangkat kepalaku, dan mengecup bibir Cie Stefanny dgn mesra sebelum aku beranjak dari tubuh Cie Stefanny dan berbaring di sisi kiri Cie Stefanny. Sempat aku menerawang sejenak, baru kemudian aku menoleh ke kanan menatap Cie Stefanny.Tadi, yg Eliza pulang telat itu... waktu Cie Cie memeluk Eliza..., aku menguatkan hatiku dan mulai bercerita.Cie Stefanny tersenyum manis sekali, tapi ia menatapku dgn sungguh sungguh, terlihat sekali kalau ia siap untk mendengarkan semua ceritaku.Eliza nggak pakai bra, Cie, aku menunduk, ingin sekali menyembunyikan wajahku di belahan dada Cie Stefanny.Jadi, tadi itu terasa sekali tekanan dari payudara Cie Cie di sini..., kataku pelan sambil menggerakkan tangan kiriku untk menunjuk ke arah puting payudaraku.Cie Stefanny tertegun menunggu kelanjutan ceritaku, sedangkan aku dgn perasaan yg campur aduk meneruskan ceritaku.Eliza tadi nggak pakai bra, soalnya tadi waktu di tempat tambal ban..., aku memejamkan mata dan mulai menangis.Sayang, kalau kamu nggak mau cerita... jangan dipaksa, bisik Cie Stefanny lembut dan memelukku dgn sayang.Eliza diperkosa Cie..., aku berkata di antara tangisku.Oh... sayang..., kata Cie Stefanny sambil memelukku, dadanya Cie Stefanny berguncang karena sekarang Cie Stefanny jg menangis.Aku jadi semakin sedih. Kubenamkan wajahku di belahan dada Cie Stefanny, lalu aku menangis sejadi jadinya. Hatiku pedih sekali mengingat nasibku yg sedemikian buruk ini, berkali kali jatuh ke dlm pemerkosaan oleh berbagai orang, tanpa bisa berbuat apa apa.Memang aku selalu orgasme dlm tiap perkosaan yg menimpaku, tapi itu lebih karena aku berusaha untk tak makin menyakiti hatiku dan membuang pikiran kalau aku ni sedang diperkosa. Toh rela ataupun tidak, tak ada yg bisa kulakukan dan aku tetap akan diperkosa. Maka daripada aku makin tersiksa, aku memilih pasrah memberikan tubuhku, bahkan aku cenderung berusaha menikmatinya.Akibatnya aku malah selalu terangsang dan orgasme di tangan para pemerkosaku, bahkan tak jarang aku mempermalukan diriku di hadapan mereka. Sudah berkali kali tubuhku bergerak di luar kendaliku untk memuaskan hasrat tubuhku sendiri saat aku ditenggelamkan dlm lautan kenikmatan oleh para pemerkosaku, membuatku benar benar terlihat seperti perempuan yg kegatalan / haus seks, dan jg membuatku tak beda dgn pelacur.Tapi kalau dlm keadaan tenang dan akal sehatku berjalan seperti ini, tetap saja aku merasa sedih sekali merenungkan keadaanku. Entah sudah sekotor apa diriku ini, yg sudah berkali kali dinodai siraman sperma dari para pemerkosaku. Aku makin sedih dan tangisanku semakin menjadi. Entah berapa lama, belaian lembut Cie Stefanny pd rambutku perlahan membuatku menjadi tenang kembali.Setelah kami berdua sama sama bisa menguasai diri, aku membenamkan wajahku di belahan dada Cie Stefanny.Eliza..., kata Cie Stefanny sambil membelai rambutku.Aku menumpahkan semua isi hatiku dan mulai menceritakan pd Cie Stefanny, bagaimana aku harus kehilangan keperawananku karena diperkosa ramai ramai di UKS, kemudian sopir dan dua pembantuku yg jadi keranjingan menikmati tubuhku.Aku tak menceritakan tentang pemerkosaan yg menimpaku di rumah Jenny, karena aku tak ingin menyangkutkan Jenny yg waktu itu dibantai bersamaku. Aku jg memilih tak menceritakan kekurangajaran tukang sapu di sekolah baletku ataupun perselingkuhan Cie Elvira. Aku hanya menceritakan pertama kalinya aku merasakan berciuman dgn seorang wanita, yaitu Cie Elvira.Jadi sejak itu kamu jadi suka sama sesama wanita ya, goda Cie Stefanny.Yee... Cie Cie jahat... enggak Cie, belum, kataku sambil meleletkan lidah.Jadi sejak kapan kamu jadi begini?, tanya Cie Stefanny dgn cukup penasaran.Ada teman sekolah Eliza, Cie. Namanya Sherly. Orangnya cantik sekali, dan suatu hari waktu Eliza ngembalikan buku ke rumahnya, tiba tiba dia menciumi Eliza..., kataku sambil senyum senyum sendiri.Anak nakal... jadi sekarang Cie Cie kamu jadikan korban pelampiasanmu ya..., kata Cie Stefanny gemas sambil mencubit kedua pipiku.Auww... ampun Cie..., aku merintih manja.Abisnya Cie Cie cantik sih..., kataku sambil menatap nakal pd Cie Stefanny sambil memegangi kedua pipiku yg terasa panas akibat cubitan Cie Stefanny.Cie Stefanny mengecup kedua mataku mesra, dan aku memejamkan mataku menikmati cumbuan guru lesku yg cantik ini.Nah, lebih parah lagi, suatu hari itu Eliza, Jenny, Sherly, jg tiga teman Eliza yg lain berlibur. Pertama itu Sherly yg nggodain dan menciumi Eliza, dan Eliza cuma bisa pasrah. Tapi Eliza nggak nyangka kalau Jenny melihat semua itu. Dan waktu kami pulang liburan, Jenny jg ikut ikutan menciumi Eliza. Yah... akhirnya Eliza jadi seperti ni Cie, kataku sambil terus menatap Cie StefannyCerpen SexSekali ni Cie Stefanny sudah tak lagi canggung dan mau balas menatapku dgn mesra selagi aku menceritakan bagaimana aku bermesraan habis habisan dgn Sherly di vila, kemudian saling melumat bibir dgn Jenny di depan rumahnya, dan dari awal yg canggung, aku jadi terbiasa untk bermesraan dgn kedua temanku ini.Terus, kenapa tiba tiba kamu mengajak Cie Cie bercinta... Cie Cie kan nggak melakukan apa apa selain memeluk kamu..., tanya Cie Stefanny yg masih penasaran.Kalau puting payudara Cie Cie ditekan seperti ini..., kataku sambil beranjak duduk lalu menekan kedua puting payudara Cie Stefanny yg masih menyembul itu.Sshhh..., Cie Stefanny mendesah pelan.Nah gitu deh Cie, terus yg menekan punya Eliza tadi itu cewek yg cantik seperti Cie Cie. Apalagi Cie Cie terlihat sexy dgn rambut sedikit basah tadi, ya udah..., kataku sambil mendekatkan wajahku ke wajah Cie Stefanny, lalu aku balas mengecup ked

other source : http://slideshare.net, http://reddit.com, http://majalahabg.com

0 Response to "Cerita Mesum, Cerita Pemerkosaan, Cerita Selingkuh, Cerita Sex, Cerita Skandal"

Posting Komentar

Contact

Nama

Email *

Pesan *